Rabu, 19 Januari 2011

cerpen (upacara penguburan)

UPACARA PENGUBURAN 
    Orang - orang yang hadir bergantian melihat ke langit. Mereka seolah memohon dengan tatapan matanya kepada Sang Penguasa langit dan bumi, agar air hujan yang siap tumpah dari langit itu jangan dulu menghujam bumi. Dan aku kira langit sudah menerima perintah-Nya. Hujan tak berani turun hingga saat ini. Bumi masih belum basah hingga cangkulan tanah yang pertama melayang mengisi liang lahat. Hanya mendung yang menggumpal, membuat alam terdiam. Hening. Hanya gemuruh suara tahlil yang menggema berkesempatan memecah sunyi. Buram, penglihatan meremang serasa ba’da maghrib. Tak percaya kalau ini masih ba’da duhur. Semoga saja upacara penguburan ini bejalan lancar hingga selesai. 
    Kecruk ! kecruk !, suara cangkul mencungkil tanah dan melemparkannya ke liang lahat. Ada gejolak aneh yang kurasakan dalam dada ini. Jarang sekali kurasakan gejolak ini. Tapi aku yakin kalau aku pernah merasakan gejolak ini sebelumnya, walaupun hanya sebatas dalam mimpiki kemarin dulu. Yang jelas, gejolak ini membuat mulutku terkunci rapat, nafasku terasa tersendat, dan  ada sesuatu yang memaksa keluar dari mataku. Sesuatu yang terasa hangat dan basah di pipiku. Aku tak peduli lagi apakah ini prilaku cengeng yang harus segera dicampakkan atau bukan. Terang saja tidak ada niatku untuk seperti ini. Aku hanya bisa tertunduk. Aku hanya bisa berdoa semoga Allah menerimanya dengan penuh kasih sayang. Semoga Allah memayunginya dengan keridhoan-Nya dan bukan merajamnya dengan kemurkaan-Nya. Harus kubalas ! Ya, kepalan tangan ini akan sulit terbuka jika hutang nyawa belum terbalas. Lelehan air mata ini akan sulit mengering jika dendamku belum tuntas.
     Wuoy ! Siapapun engkau, apapun alasanmu membunuhnya, sekuat apapun engkau,  segeralah berpamitan ke dunia ini karena aku akan memaksamu untuk meninggalkannya secepat mungkin !! Tapi bukan ! Bukan begitu seharusnya sikapku. Bukankah aku ini hamba Allah yang beriman kepada qada dan qadar-Nya ? Yang akan selalu berucap, inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun - semuanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah, ketika ditimpa musibah ? Sadarlah! Balas dendam bukan merupakan suatu motif yang tepat untuk diizinkan membunuh orang dalam islam. Ingatlah bahwa jihad fi sabiilillah itu bukan balas dendam.             
    Hati-hati,islam sudah sering dijebak untuk dijadikan sebagai kedok dalam memprovokasi massa menjadi rusuh, lalak- luntuh dan bermata keruh. Bukan itu yang seharusnya bergemuruh. Yang jelas adalah, kami harus segera menentukan siapa figur pengganti imam yang selanjutnya akan memimpin kami - para santri, untuk melangkah ke satu arah. Ya, benar ! Kami harus bergerak secepatnya ! Satu hal yang telah membuatku kembali tertegun waktu itu adalah mengenai posisi. 
    Ya, posisi atau jabatan. Kepergiannya telah memaksaku untuk berpikir ke depan. Siapa yang mau menggantikan posisinya sebagai imam ? Siapa yang pantas memegang jabatan ini ? Aku ? Ah tidak mungkin. Memang aku sudah banyak hafal ayat-ayat Quran. Tapi bukan itu yang penting. Yang penting adalah bagaimana ayat-ayat suci itu mampu membuka mataku untuk membedakan mana yang haq - mana yang bathil. Sudahkah aku ini seperti itu ? 
    Sudahkah aku seperti dia yang tidak berbicara kecuali karena demi kebaikan, tidak berjalan kecuali pada jalan-Nya, dan tidak melakukan apapun kecuali karena melakukan perintah-Nya ? Belum ! Aku rasa aku belum seperti itu. Kadang hati kecilku masih berkata bahwa ketika aku memoleskan islam kepada orang-orang dengan warna hafalan ayat-ayat Quran yang fasih itu, kulakukan bukan karena Allah, tapi karena aku ingin disegani orang-orang dengan penguasaan ilmu itu. Ya Allah, ampuni aku.        
    Astaghfirullaahaladziim. Sudah hampir setengahnya liang lahat itu tertimbun tanah. Aku teringat saat kejadian malam itu. Ketika santri-santri yang rajin mulai bangkit dari tidurnya untuk menunaikan tahajjud. Ketika aku hendak mengambil air wudlu di pancuran belakang kobong. Tiba-tiba saja terdengar empat kali suara letusan bertubi-tubi - diikuti suara pecahan kaca mesjid yang kemudian berjatuhan ke lantai. Ya,  waktu itu menjelang dinihari, di sepertiga malam akhir. Ketika dia ditemukan tersungkur di mesjid - bersimbah darah, tak bernyawa. Empat peluru tajam bersarang di punggungnya, tembus ke dada. Aku yakin dia ditembak dalam posisi sedang bersujud - di saat dia sedang merasakan nikmatnya berkomunikasi dengan Robbnya. Mungkin dia sedang memohon kepada Robbnya supaya dia diwafatkan dengan predikat mati syahid. 
    Ya  mungkin saja. Dan Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar langsung mengabulkam doanya. Tak heran kalau ada sesungging senyum yang penuh kepuasan pada bibirnya. Subhanallah - maha suci Engkau, Ya Allah ! Anak-anak ayam benar-benar telah kehilangan induknya. 
    Itulah yang terjadi pada kami, santri-santri yang malang. Mungkinkah ini terjadi karena imam terlalu lantang dalam menyampaikan kebenaran ? Mungkinkah mereka melakukan ini semua gara-gara kami bercita-cita mengembalikan kejayaan islam seperti masa Rasulullah dan khulafaurraasyidin ? Apakah itu alasannya ? Ekstrim ? Kalau begitu  , aku kira merekalah musuh kami dalam perang badar abad 21 ini. Mereka telah mengawali perang ini dengan membunuh imam. Mereka sudah berani bermain api. 
    Aku tak tahu kenapa gundukan tanah itu terlihat begitu indah. Jasad imam yang tergolek di bawahnya telah membuat gundukan tanah itu tersenyum berseri. Imam , tidurlah engkau seperti tidurnya malam pertama pengantin baru yang penuh dengan kenikmatan. 
Ya Allah, izinkanlah dia untuk merasakan itu selama penantian datangnya hari kiamat. Dia telah berniaga dengan-Mu dengan menjual diri dan hartanya kepada-Mu. Engkau berjanji memberikan syurga untuk itu. Tiada yang lebih menepati janji selain daripada Engkau Wahai Penguasa Alam Semesta. 
Doaku terhenti tiba-tiba. Seorang pria kekar menghampiriku. Saya turut berdukacita atas kejadian ini. Kami akan berusaha mengungkap kasus ini sampai tuntas. Demi tegaknya hukum ! pria kekar itu memegang pundakku dan kemudian pergi begitu saja. Siapa dia ? Ada urusan apa ? Hukum yang mana yang harus tegak ? Entahlah aku tak paham. Yang jelas, dia hanya tampak sebagai manusia oleh sensor mata lahirku saja. Mata batinku mengatakan, dia adalah seekor kera hasil kutukan. Mungkin juga hanya keturunannya - ya, keturunan bani israil yang dikutuk itu. 
    Bau mulutnya seperti bau mulut Abdullah bin Ubay yang penuh kemunafikan. Pegangan tangannya di pundakku mengalirkan ketololan, seperti ketololan kaum yahudi yang telah ingkar itu. Dan sepatunya  sama dengan sepatu yang telah menginjak-injak saudara-saudaraku di tanjung priok.
     Masya Allah, inikah orang itu ? Kukejar pria itu dengan sudut mataku. Kukuntit langkah kakinya dengan ujung telingaku. Dia membisikkan sesuatu kepada orang yang berdiri tegap dihadapannya. Hapuskan semua bukti, lanjutkan ke rencana B ! Siap laksanakan, jenderal ! jawab orang itu tegas. 
    *** Angin bertiup kencang. Tetes-tetes hujan mulai berjatuhan. Suasana pekuburan itu kembali sepi. Santri-santri sudah kembali ke kobong. Hanya ada aku dan gundukan tanah merah itu. Juga ada gumaman kecil yang keluar dari mulutku. 
Sampai jumpa di medan pertempuran, jenderal. Demi Allah !!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar